Sejarah tidak saja mencatat kenangan manis tetapi tentu tinta merah pun disediakan untuk mengenang laku pahit. Hingga Walter Benyamin-pun mem-wahyukan bahwa sejarah dengan kepedihan justru paling romantis untuk dikenang. Lantas Sindhunata pun dengan gesit me-nyorongkan untuk tetap “Eling Lan Waspada” terhadap Memoria Passionis, sebab dominasi satu orang atau kelompok terhadap satu orang atau kelompok lain jamak menunggangi memoria passionis tersebut.
“ Le, piyae kabare” ( Nak, gimana kabarnya?)
“ Molai winggi kepikiran pinggin nelpon awakmu” (mulai kemarin terpikir untuk nelpon kamu)
“ Wong iku yok opo sih, mbiyen ngaku dadhi bajul , kuat tanp tandingan lha sak iki kok melas ngono” (Orang itu gimana sih, dulu dengan lantang mengaku jadi buaya tanpa tanding, hari-hari ini kok perlu dikasiani/dibela gitu)
Percakapan diatas adalah telpon dari ibu saya yang sedang berada di Kalimantan, beliau memang tak pernah absent dari semua berita atau peristiwa yang terjadi dimana pun. Maka menu utama kami sekeluarga bila berkumpul adalah diskusi….ahh terlalu moncer istilah ini, celoteh-celoteh kejadian tepatnya…. Dan bila agak jauh dari saya (ke luar kota), pasti nelpon yang bikin operator seluler tersenyum manis…sebab kita beda operator dan pantang sebentar kalau beliau nelpon.
Ya, ibu saya rupanya sedikit gelisah untuk bersikap terhadap laskar Bhayangkara yang sedang jadi actor media saat ini. Berbagai fakta yang beliau lafalkan akhir-akhir ini menjadi L U S I ( Larutan Ucap Sirnakan Ingatan ). Tentu ada yang cukup tajam ingatannya, seperti Arswendo Atmowiloto yang mem-bekukan pendapatnya dengan opini “Buaya Versus Buaya”.
“Halo Buk, pripun sampun miring tiyang e , dhados tersangka”